Saudi Kutuk Keputusan Penjajah Zionis Bangun 800 Unit Pemukiman Ilegal Baru

Pemukiman ilegal Penjajah di Nablus Tepi Barat pda 18 Oktober [ShadApaImages]

Arab Saudi telah mengutuk pengesahan Penjajah Zionis atas pembangunan 800 unit permukiman ilegal baru di Tepi Barat yang dijajah, menyebutnya sebagai ancaman bagi solusi politik yang damai.

Sebuah pernyataan dari Kemenlu Kerajaan Saudi pada 13 Januari menyatakan : “Kami mengutuk dengan keras keputusan Penjajah untuk menyetujui pendirian 800 unit permukiman baru di Tepi Barat, dan kami mengulangi penolakan absolut kami atas langkah ini sebagai pelanggaran baru terhadap keputusan internasional yang absah, sebuah ancaman terhadap perdamaian, dan merongrong berbagai upaya bagi solusi dua negara.”

Kecaman itu muncul setelah Perdana Menteri Penjajah Zionis Benjamin Netanyahu sehari sebelumnya memerintahkan untuk melanjutkan rencana pembangunan 800 rumah baru bagi pemukim Yahudi di pemukiman Beit El, Tal Menashe, Rehelim, Shavei Shomron, Barkan, Karnei Shomron dan Givat Zeev. Namun, tanggal dimulainya pembangunan masih belum ditentukan.

Meskipun ada peringatan berulang kali dari sekutu Penjajah Zionis terhadap pembangunan permukiman di Tepi Barat – yang dianggap ilegal menurut hukum internasional – Tel Aviv tetap bertahan dengan upaya pembangunannya untuk menyebar lebih luas ke seluruh wilayah Palestina yang dijajah dan mendapatkan kendali atas wilayah-wilayah strategis.

Kecaman Arab Saudi sendiri muncul di tengah spekulasi bahwa mereka dapat menormalkan hubungan dengan Penjajah Zionis dalam waktu dekat, mengikuti langkah Uni Emirat Arab, Bahrain, Sudan, dan Maroko tahun lalu.

Kerajaan tidak mengesampingkan kemungkinan itu, tetapi bersikeras agar rakyat Palestina harus terlebih dahulu dijamin hak-hak mereka dan perwakilan yang setara sebelum melakukan tindakan normalisasi. Seperti yang dikatakan Menteri Luar Negeri Saudi Pangeran Faisal Bin Farhan pada Oktober tahun lalu: “Kami selalu membayangkan bahwa normalisasi akan terjadi, tetapi kita juga perlu memiliki Palestina sebagai negara dan rencana perdamaian Palestina-Penjajah Zionis.”

Ada beberapa reaksi negatif dalam hubungan yang menghangat antara Riyadh dan Tel Aviv, dengan pangeran Saudi dan mantan pejabat tinggi Turki Al-Faisal bulan lalu meneriakkan Penjajah Zionis atas pembangunan “tembok apartheid”, yang menjadikan  rakyat Palestina di kamp-kamp konsentrasi, dan menolak persamaan hak bagi warga negara non-Yahudi.

—————

Sumber: www.middleeastmonitor.com, terbit: 13 Januari 2021 jam 1:04 sore.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *