Penjajah Zionis Resmi Bergabung Dengan ISA

Menteri Keamanan Publik Penjajah Zionis Amir Ohana, 24 Juli 2019 [Facebook]

Penjajah Zionis Israel telah resmi bergabung dengan Aliansi Keamanan Internasional (ISA), sebuah kelompok yang berbasis di Abu Dhabi yang dibentuk untuk memerangi kejahatan terorganisir dan transnasional, menurut laporan Jerusalem Post. Menteri Keamanan Publik Amir Ohana menggambarkan langkah tersebut sebagai “langkah penting dalam mempromosikan perdamaian dan keamanan di wilayah kami” dalam forum ISA pada Rabu malam (9/12).

“Atas nama pemerintah negara Penjajah Zionis, kami bangga anda telah memilih kami menjadi anggota aliansi penting ini,” kata Ohana. “Kemajuan bersama dunia Arab berbarengan dengan hubungan yang sangat baik dengan rekan-rekan Eropa kami akan memungkinkan kami untuk berkontribusi kepada aliansi yang bersentuhan dengan beberapa masalah paling penting di bidang keselamatan dan keamanan dalam negeri.” Dia berterima kasih kepada mitra kerjanya di UEA, Sheikh Saif Bin Zayed Al-Nahyan, yang juga menjabat sebagai Wakil Perdana Menteri.

Pernyataan dari Al-Nahyan yang dipublikasikan oleh kantor berita resmi WAM menyebutkan bahwa keanggotaan negara Penjajah Zionis dalam kelompok tersebut akan membantu memperkuat aliansi. Dia menjelaskan bahwa kerja sama internasional telah membantu mengatasi berbagai tantangan global utama, seperti pandemi virus corona, “demi kebaikan dunia dan kemanusiaan pada umumnya.”

Sebagai anggota kesepuluh ISA, negara Penjajah Zionis berdiri di sisi UEA, Prancis, Bahrain, Italia, Senegal, Spanyol, Singapura, Maroko, dan Slovakia. Aliansi ini didirikan pada 2018 oleh UEA dan Prancis dan perannya adalah untuk “menghadapi kejahatan terorganisir dan transnasional dari berbagai jenis, mengembangkan cara pencegahan, dan memastikan keberlanjutan keamanan dan stabilitas negara-negara ini dalam upaya mereka untuk mempromosikan keamanan dan pertumbuhan kepada rakyat mereka.

Langkah negara Penjajah Zionis ini mengikuti normalisasi hubungannya dengan UEA, Bahrain dan Sudan. Beberapa hari yang lalu, Maroko telah menjadi negara keempat sejak Agustus yang mencapai kesepakatan untuk menormalisasi hubungan dengan negara penjajah ini.

Palestina amat kritis terhadap berbagai kesepakatan normalisasi ini. Mereka menuduh negara-negara Arab ini mengesampingkan perjuangan perdamaian dengan mengabaikan tuntutan lama bahwa negara Penjajah Zionis harus menyerahkan tanah air negara Palestina sebelum dapat menerima pengakuan tersebut.

———-

Sumber: www.middleeastmonitor.com, terbit: 11 Desember 2020 pukul 3:26 sore.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *