Hanan Ashrawi Bersikukuh Pada Pengunduran Dirinya dan Ungkap Alasannya

Ramallah – anggota Komite Eksekutif PLO, Hanan Ashrawi, pada hari Rabu (09/12) mengungkapkan alasan pengunduran dirinya, yang telah diajukannya kepada Presiden Otoritas Palestina Mahmoud Abbas pada akhir bulan lalu.

Dalam sebuah pernyataan, Ashrawi mengatakan: Waktunya telah tiba untuk melaksanakan reformasi yang diperlukan, mengaktifkan PLO, mengembalikan pertimbangan sesuai tugas dan fungsinya, dan menghormati mandat Komite Eksekutif, yang dimarjinalisasi dan tidak dikutsertakan dalam pengambilan keputusan.

Ashrawi menekankan perlunya rotasi kekuasaan yang demokratis melalui pemilu. Sistem politik Palestina perlu memperbarui komponennya, mengikutsertakan kaum muda, perempuan dan laki-laki, dan berbagai kompetensi dalam titik-titik pengambilan keputusan.

Dia menambahkan bahwa amanah ini menuntut setiap orang memikul tanggung jawabnya dan menjalankan tugasnya dengan sepenuh hati, termasuk membuka kesempatan bagi perubahan yang diinginkan.

Ashrawi menjelaskan bahwa  dirinya telah mengajukan pengunduran diri secara lisan dari Komite Eksekutif pada tanggal 24 November lalu saat bertemu dengan Presiden Mahmoud Abbas. Lalu diikuti dengan pengunduran diri tertulis pada tangal 26 November 2020, dimana mulai berlaku sejak akhir tahun ini.

Ashrawi menjelaskan bahwa Abbas menunda penyelesaian masalah tersebut hingga Dewan Pusat bersidang, tetapi Ashrawi telah mengonfirmasi pengunduran dirinya pada akhir tahun ini.

Ashrawi lahir pada tahun 1946 dan  pada tahun 1991 diangkat sebagai juru bicara delegasi PLO dalam perundingan Madrid.

Dia juga pernah beberapa kali memegang jabatan sebagai menteri, dan terpilih menjadi anggota Komite Eksekutif pada tahun 2018.

Masalah penyelenggaraan pemilu adalah salah satu tuntutan masyarakat dan faksi yang paling penting bagi jalan keluar dari kondisi Palestina saat ini. Dan itu adalah salah satu hal paling menonjol yang disepakati selama pertemuan rekonsiliasi, tetapi masih menunggu keputusan dan pengumuman yang dikeluarkan oleh Presiden Otoritas Palestina, Mahmoud Abbas, untuk melaksanakannya.

Pemilu terakhir diadakan pada tahun 2006 dimana kala itu Hamas berhasil memenangkannya, lalu terbentuklah pemerintahan yang harus menghadapi blokade dan berbagai kesulitan, dan para anggota parlemennya ditangkap dan hilang, dan gaji mereka dipotong.

—————–

Sumber: www.palinfo.com, terbit: Rabu 9 Desember 2020, pukul: 19:49.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *